Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Oktober 2011

Inilah Mobil Tertua di Dunia, Bernilai Rp 42 M

Mobil tertua di dunia berusia 127 tahun dilelang akhir pekan lalu. Mobil dengan merek De Dion yang lahir 1884 ini dilelang dengan harga Rp 42 miliar!


Angka ini lebih tinggi dari angka perkiraan lelang yang mencapai Rp 22,5 miliar. Mobil ini merupakan mobil produksi De Dion, Bouton & Trepardoux dan akan segera dilelang di balai lelang RM Auctions pada 6 Oktober lalu di Hershey, Amerika Serikat.

Dalam siaran pers RM Auctions ‘Fosil hidup’ dunia otomotif ini menggunakan mesin tenaga uap Victoria dan terakhir masuk pelelangan pada tahun 2007.
Mobil bernama panggilan La Marquise (nama ibu dari Count de Dion yang mendirikan perusahaan ini) ketika itu dilelang oleh balai lelang Gooding & Company di Pebble Beach dan dibeli oleh kolektor asal Texas bernama Yohanes O’Quinn sebesar US$ 3,5 juta atau sekitar Rp 31,7 miliar.
Mobil ini selama 81 tahun pertama hidupnya dimiliki oleh satu pemilik.
“Kendaraan seperti ini menarik bagi berbagai kolektor, bukan hanya kolektor mobil,” kata spesialis balai lelang RM, Alain Squindo seperti yang dikutip dari New York Times.
“Siapa pun yang berkepentingan dengan teknologi uap atau sejarah industri akan mengenali pentingnya mobil ini,” lugasnya.
Dan ketika mobil ini dipamerkan kepada peserta lelang, peserta memberikan sambutan hangat.


sumber : http://aliefqu.wordpress.com/2011/10/10/inilah-mobil-tertua-di-dunia-bernilai-rp-42-m/

Jumat, 16 September 2011

Inilah Asal-Usul Kenapa 1hari=24jam, 1jam=60menit, 1menit=60detik

Pernahkah agan2 bertanya-tanya mengapa dalam 1 hari ada 24 jam, dalam 1 menit ada 60 detik, dan dalam 1 detik ada 60 menit? Inilah jawabannya gan. 


Sistem bilangan yang paling banyak digunakan manusia saat ini adalah sistem desimal, yaitu sebuah sistem bilangan berbasis 10. Namun untuk mengukur waktu kita menggunakan sistem duodesimal (basis 12) dan sexadesimal (basis 60). Hal ini disebabkan karena metode untuk membagi hari diturunkan dari sistem bilangan yang digunakan oleh peradaban kuno Mediterania. Pada sekitar tahun 1500 SM, orang-orang Mesir kuno menggunakan sistem bilangan berbasis 12, dan mereka mengembangkan sebuah sistem jam matahari berbentuk seperti huruf T yang diletakkan di atas tanah dan membagi waktu antara matahari terbit dan tenggelam ke dalam 12 bagian. Para ahli sejarah berpendapat, orang-orang Mesir kuno menggunakan sistem bilangan berbasis 12 didasarkan akan jumlah siklus bulan dalam setahun atau bisa juga didasarkan akan banyaknya jumlah sendi jari manusia (3 di tiap jari, tidak termasuk jempol) yang memungkinkan mereka berhitung hingga 12 menggunakan jempol.



 Jam matahari generasi berikutnya sudah sedikit banyak merepresentasikan apa yang sekarang kita sebut dengan “jam”. Sedangkan pembagian malam menjadi 12 bagian, didasarkan atas pengamatan para ahli astronomi Mesir kuno akan adanya 12 bintang di langit pada saat malam hari.



Dengan membagi satu hari dan satu malam menjadi masing-masing 12 jam, maka dengan tidak langsung konsep 24 jam diperkenalkan. Namun demikian panjang hari dan panjang malam tidaklah sama, tergantung musimnya (contoh: saat musim panas hari lebih panjang dibandingkan malam). Oleh karena itu pembagian jam dalam satu hari pun berubah-ubah sesuai dengan musimnya. Sistem waktu ini disebut dengan sistem waktu musiman. Pada sekitar tahun 147-127 SM, seorang ahli astronomi Yunani bernama Hipparchus menyarankan agar banyaknya jam dalam satu hari dibuat tetap saja yaitu sebanyak 24 jam, disebut dengan sistem waktu equinoctial. Namun sistem ini baru diterima secara luas oleh saat ditemukannya jam mekanik di Eropa pada abad ke-14.

 

Hipparcus


 Eratosthenes (276-194 SM), seorang ahli astronomi Yunani lainnya membagi sebuah lingkaran menjadi 60 bagian untuk membuat sistem geografis latitude. Teknik ini didasarkan atas sistem berbasis 60 yang digunakan oleh orang-orang Babilonia yang berdiam di Mesopotamia, yang jika ditilik lebih jauh diturunkan dari sistem yang digunakan oleh peradaban Sumeria sekitar 2000 SM. Tidak diketahui dengan pasti mengapa menggunakan sistem bilangan berbasis 60, namun satu dugaan mengatakan untuk kemudahan perhitungan karena angka 60 adalah merupakan angka terkecil yang dapat dibagi habis oleh 10, 12, 15, 20 dan 30.

Eratosthenes

Satu abad kemudian, Hipparchus memperkenalkan sistem longitude 360 derajat. Dan pada sekitar 130 M, Claudius Ptolemy membagi tiap derajat menjadi 60 bagian. Bagian pertama disebut dengan partes minutae primae yang artinya menit pertama, bagian yang kedua disebut partes minutae secundae atau menit kedua, dan seterusnya. Walaupun ada 60 bagian, yang digunakan hanyalah 2 bagian yang pertama saja dimana bagian yang pertama menjadi menit, dan bagian yang kedua menjadi detik. Sedangkan sisa 58 bagian yang lainnya membentuk satuan waktu yang lebih kecil daripada detik.

Sistem waktu ini membutuhkan waktu berabad-abad untuk tersebar luas penggunaannya. Bahkan jam penunjuk waktu pertama yang menampilkan menit dibuat pertama kali pada abad ke-16. Sistem waktu ini digunakan hingga sekarang oleh kita manusia modern. 







  sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10498237